Spyware Asal Israel Diduga jadi Alat Meretas Jurnalis, Aktivis, dan Oposisi Pemerintah

Kembali terulang. Spyware Pegasus besutan NSO Group asal Israel diduga telah digunakan untuk meretas 50.000 nomor handphone di 50 negara.

Bagaimana pegasus spyware menyerang ponsel Anda

Spyware asal Israel, Pegasus, dituding jadi alat untuk meretas jurnalis, aktivis kemanusiaan, dan politisi oposisi di seluruh dunia. Tuduhan ini berdasarkan hasil investigasi Forbiddens Stories, sebuah organisasi nirlaba jurnalisme yang berpusat di Paris, dan organisasi nirlaba yang fokus pada isu Hak Asasi Manusia (HAM), Amnesty International.

Dalam laporan yang dipublikasikan 17 media yang tergabung dalam Forbidden Stories, investigasi yang dinamai Pegasus Project itu menelusuri 50.000 nomor ponsel yang diduga menjadi korban peretasan. Times Of Israel pada Minggu (18/7) waktu setempat melaporkan, pemilik nomor-nomor tersebut berasal dari 50 negara berbeda dengan latar belakang profesi beragam.

Selain 85 orang aktivis HAM, 189 jurnalis, dan lebih dari 600 politisi dan pejabat pemerintahan, ada pula pengusaha, anggota kerajaan Arab, bahkan perdana menteri dan sejumlah kepala negara.

Dari hasil analisa forensik yang dilakukan Security Lab milik Amnesty International, sebagian jurnalis dalam daftar tersebut merupakan korban peretasan di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang mereka identifikasi pada Desember 2020 lalu.

Puluhan ribu nomor tersebut juga diketahui berasal dari negara-negara pengguna Spyware Pegasus. Sebagian di antaranya merupakan orang-orang yang diincar pemerintah Azerbaijan, Bahrain, Kazakhstan, Meksiko, Maroko, Rwanda, Arab Saudi, Hongaria, India, dan Uni Emirat Arab.

Para penentang Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, dimata-matai menggunakan Pegasus. Menurut laporan Washington Post, Minggu (18/7), spyware besutan NSO Group itu juga digunakan untuk meretas handphone orang-orang terdekat jurnalis senior mereka, Jamal Khashoggi. Upaya peretasan dilakukan sebelum dan sesudah kematian Khashoggi, yang kasus pembunuhannya menjadi sorotan internasional hingga saat ini.

“Saya sangat yakin ini Pegasus, karena karakteristiknya yang sangat jelas. Jejak yang kami temukan pun saling mengonfirmasi satu sama lain,” kata Direktur Security Lab Amnesty International, Claudio Guarnieri, dikutip dari Haaretz, Minggu (18/7) waktu setempat.

Menurutnya, Pegasus memungkinkan penggunanya untuk mengambil alih ponsel target. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan di antaranya merekam audio dan video melalui handphone yang sudah terinfeksi, melacak lokasi melalui GPS, serta mendapatkan password dan kunci otentikasi, selama ponsel dalam keadaan menyala.

Download JagaJaga mobile security
Download JagaJaga mobile security

Di sisi lain, pihak NSO Group membantah tudingan tersebut. Chief executive sekaligus co-founder NSO, Shalev Hulio, dalam pernyataan yang dikutip Washington Post, menampik pihaknya memiliki keterkaitan dengan 50.000 nomor ponsel tersebut. Menurutnya, NSO hanya mengizinkan distribusi Pegasus kepada klien pemerintah mereka, untuk menyelidiki kasus terorisme atau kejahatan besar lainnya.

Hulio menegaskan, perusahaan akan melakukan tindakan tegas kepada klien mereka, jika kabar peretasan menggunakan Pegasus bukanlah isapan jempol semata. Bahkan, kata dia, NSO akan menghentikan kontrak dengan klien yang terbukti melakukan peretasan terhadap jurnalis dan aktivis kemanusiaan, sebagaimana yang dituduhkan.

“Itu melanggar kepercayaan yang kami berikan. Kami tengah melakukan investigasi untuk membuktikan tudingan ini. Kalau benar, kami akan melakukan tindakan tegas,” kata Hulio dalam Washington Post, Minggu (18/7) waktu setempat.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia menyangkal kasus peretasan menggunakan Spyware Pegasus juga terjadi di Tanah Air. Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate mengatakan, hingga saat ini tidak ada indikasi pembobolan privasi warga negara menggunakan Pegasus.

“Hasil monitoring kita, belum terlihat dampak Spyware Pegasus. Hari ini saya ada pertemuan dengan BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) untuk bicara soal itu,” kata Plate seperti dilaporkan CNN Indonesia, Senin (19/7).

Siapapun Anda, sangat penting untuk menjaga masuknya program jahat ke dalam ponsel. Satu langkah awal adalah dengan menginstall aplikasi yang mengamankan ponsel. JagaJaga adalah produk Indonesia yang berfokus pada mobile security. JagaJaga dapat mengurangi risiko malware pada ponsel Anda.

Gema Trisna Yudha, WOLU

Related Posts